Afghanistan: PBB mengutuk ledakan mematikan di dua sekolah di Kabul |
Culture and Education

Afghanistan: PBB mengutuk ledakan mematikan di dua sekolah di Kabul |

Ledakan itu terjadi di sekolah menengah Abdul Rahim Shahid yang khusus laki-laki dan Pusat Pendidikan Mumtaz di dekatnya, keduanya terletak di daerah Dasht-e-Barchi, lingkungan mayoritas Muslim Syiah di Kabul barat.

Serangan di sekolah menengah Abdul Rahim Shahid dilaporkan terjadi ketika para siswa keluar dari kelas pagi mereka, menurut PBB di Afghanistan. Ledakan di Pusat Pendidikan Mumtaz terjadi tak lama kemudian.

Kekerasan terhadap sekolah tidak dapat diterima

Ramiz Alakbarov, Koordinator Kemanusiaan PBB di negara itu, mengeluarkan pernyataan yang mengecam keras serangan “mengerikan”.

“Kekerasan di dalam atau di sekitar sekolah tidak pernah bisa diterima. Bagi rakyat Afghanistan, yang sudah terkepung oleh perang selama empat puluh tahun, sekolah seharusnya menjadi tempat berlindung yang aman, dan tempat di mana anak-anak dapat belajar dan berkembang,” dia berkata.

Alakbarov menggarisbawahi bahwa serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil, termasuk sekolah, dilarang keras berdasarkan hukum humaniter internasional.

Panggilan untuk keadilan

Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) dibawa ke Twitter untuk secara tegas mengutuk serangan “keji”.

“Mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan yang menargetkan sekolah dan anak-anak harus dibawa ke pengadilan,” tweet UNAMA mengatakan, mencatat bahwa kepala Misi Deborah Lyons telah menyampaikan simpati terdalamnya kepada keluarga para korban, dan berharap untuk pemulihan yang cepat bagi yang terluka.

Filippo Grandi, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, juga bergabung dengan Lyons dalam menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.

“Keragaman etnis, agama, dan bahasa Afganistan berada dalam risiko besar. Itu harus dihormati dan dijaga keamanannya,” Tuan Grandi menulis di akun Twitter resminya.

Lebih dari belajar

PBB Sekretaris Jenderal Antonio Guterres juga mengecam pengeboman tersebut.

“Serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil, termasuk sekolah, dilarang keras berdasarkan hukum humaniter internasional,” Juru Bicara PBB Stéphane Dujarric mengatakan kepada wartawan di New York.

Dalam mengungkapkan kecamannya, kepala Dana Anak-anak PBB (UNICEF), Catherine Russell, mencatat bahwa jumlah korban diperkirakan akan meningkat.

Dia juga mengimbau dengan sangat tegas kepada semua pihak untuk melindungi anak laki-laki dan perempuan setiap saat.

“Serangan terhadap anak-anak dan fasilitas pendidikan merupakan pelanggaran hak asasi yang berat,” kata Bu Russel. “Sekolah lebih dari sekadar tempat belajar; mereka harus menjadi surga perlindungan dan kedamaian.”